02733 2200229 4500001002100000005001500021035002000036008004100056245003100097100002600128260004400154300002300198020002200221020001800243084001900261082001100280650002800291520107200319990002001391990002001411500107201431INLIS00000000000294220210812102348 a0010-0821000137210812 g 0 ind 1 aMenyembah Tuhan yang Salah aRif'an, Ahmad Rifa'in aJakarta :bElex Media Komputindo,c2019 a268 hlm. ;c23 cm. a978-602-02-5666-5 a9786230006883 aS 269.71 RIF m a269.71 4aRetret, renungan rohani aKetika kebaikan yang kita lakukan justru melahirkan keangkuhan dalam jiwa. Saat ibadah yang kita rutinkan justru menjadikan diri merasa mulia. Ketika beragama tak lagi melahirkan cinta. Jika bertambahnya ilmu justru membuat sombong dan besar kepala, rasanya kita patut untuk curiga, jangan-jangan selama ini kita menyembah ‘Tuhan’ yang salah. Ketika bertambahnya harta tak melahirkan ketenangan. Ketika banyaknya kenalan dan teman tak lagi mendatangkan ketenteraman. Ketika rumah dan keluarga tak bisa menjadi tempat pulang yang menyejukkan. Mungkin kita perlu segera berkaca, jangan-jangan kita sedang menyembah ‘Tuhan’ yang salah. Ketika salat tak lagi membawa kedamaian bagi jiwa, ketika puasa tak lagi mampu mengekang nafsu yang selalu menggoda, saat bacaan zikir tak bisa lagi menjadi sarana untuk mengingat-Nya, mungkin kita perlu curiga, jangan-jangan di dalam hati kita sedang menyembah ‘Tuhan’ yang salah. Buku ini dihadirkan sebagai kawan untuk merenung, media untuk berkaca, karena kita butuh cermin untuk bisa melihat siapa diri kita. aS/04032/1/04032 aS/04034/1/04034 aKetika kebaikan yang kita lakukan justru melahirkan keangkuhan dalam jiwa. Saat ibadah yang kita rutinkan justru menjadikan diri merasa mulia. Ketika beragama tak lagi melahirkan cinta. Jika bertambahnya ilmu justru membuat sombong dan besar kepala, rasanya kita patut untuk curiga, jangan-jangan selama ini kita menyembah ‘Tuhan’ yang salah. Ketika bertambahnya harta tak melahirkan ketenangan. Ketika banyaknya kenalan dan teman tak lagi mendatangkan ketenteraman. Ketika rumah dan keluarga tak bisa menjadi tempat pulang yang menyejukkan. Mungkin kita perlu segera berkaca, jangan-jangan kita sedang menyembah ‘Tuhan’ yang salah. Ketika salat tak lagi membawa kedamaian bagi jiwa, ketika puasa tak lagi mampu mengekang nafsu yang selalu menggoda, saat bacaan zikir tak bisa lagi menjadi sarana untuk mengingat-Nya, mungkin kita perlu curiga, jangan-jangan di dalam hati kita sedang menyembah ‘Tuhan’ yang salah. Buku ini dihadirkan sebagai kawan untuk merenung, media untuk berkaca, karena kita butuh cermin untuk bisa melihat siapa diri kita.