<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
 <record>
  <leader>     na                 </leader>
  <controlfield tag="001">INLIS000000000003238</controlfield>
  <controlfield tag="005">20220720014440</controlfield>
  <datafield tag="035" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">0010-0722000006</subfield>
  </datafield>
  <controlfield tag="007">ta</controlfield>
  <controlfield tag="008">220720                g          0 ind  </controlfield>
  <datafield tag="020" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">9786024412555</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="082" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">297.41</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="084" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">S 297.41 ALH s</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="100" ind1="1" ind2=" ">
   <subfield code="a">Al-Hadar, Husein Ja'far</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="245" ind1="1" ind2=" ">
   <subfield code="a">Seni Merayu Tuhan</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="260" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Bandung :</subfield>
   <subfield code="b">MIzan,</subfield>
   <subfield code="c">2022</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="300" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">228 hlm :</subfield>
   <subfield code="b">ill ;</subfield>
   <subfield code="c">20 cm</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="650" ind1=" " ind2="4">
   <subfield code="a">Tasawuf</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="650" ind1=" " ind2="4">
   <subfield code="a">Islam</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="650" ind1=" " ind2="4">
   <subfield code="a">Islam Populer</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="520" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">“Allah Mahaindah dan menyukai keindahan, maka dekati Dia dengan rayuan yang begitu romantis. Sebab, amal kita bukanlah ‘alat tukar’ untuk surga, melainkan hanya Rahmat-Nya yang membawa kita ke surga.”&#13;
&#13;
Jika Tuhan Maha Pengasih, masih perlukah kita merayu-Nya? Tentu saja perlu dan hanya itulah cara kita menjemput rahmat-Nya. Bahkan, sebelum kita merayu-Nya dengan romantis, Tuhan telah memberi nikmat yang unlimited. Jangankan untuk membalas nikmat-Nya, untuk&#13;
menghitungnya pun kita tak akan mampu!&#13;
&#13;
“Maka,” tulis Husein Ja‘far Al-Hadar, “kita memerlukan seni merayu Tuhan, agar cinta dan rahmat-Nya senantiasa berdegup di hati kita.”&#13;
&#13;
Dalam buku Seni Merayu Tuhan, Husein menawarkan perspektif seni—dalam arti yang luas—kepada pembaca untuk memahami berbagai fenomena keberagamaan kontemporer, mulai dari kesalehan ritual, sosial, hingga digital.&#13;
Dengan gaya “dakwah milenialis”, bahasa yang popular, dan jenaka, Husein mengemas buku ini dengan segar dan mudah dicerna oleh berbagai kelompok anak muda, tanpa kehilangan daya nalar dan kritisnya.</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">S/04625/1/04625</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">S/04626/1/04626</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="500" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">“Allah Mahaindah dan menyukai keindahan, maka dekati Dia dengan rayuan yang begitu romantis. Sebab, amal kita bukanlah ‘alat tukar’ untuk surga, melainkan hanya Rahmat-Nya yang membawa kita ke surga.”&#13;
&#13;
Jika Tuhan Maha Pengasih, masih perlukah kita merayu-Nya? Tentu saja perlu dan hanya itulah cara kita menjemput rahmat-Nya. Bahkan, sebelum kita merayu-Nya dengan romantis, Tuhan telah memberi nikmat yang unlimited. Jangankan untuk membalas nikmat-Nya, untuk&#13;
menghitungnya pun kita tak akan mampu!&#13;
&#13;
“Maka,” tulis Husein Ja‘far Al-Hadar, “kita memerlukan seni merayu Tuhan, agar cinta dan rahmat-Nya senantiasa berdegup di hati kita.”&#13;
&#13;
Dalam buku Seni Merayu Tuhan, Husein menawarkan perspektif seni—dalam arti yang luas—kepada pembaca untuk memahami berbagai fenomena keberagamaan kontemporer, mulai dari kesalehan ritual, sosial, hingga digital.&#13;
Dengan gaya “dakwah milenialis”, bahasa yang popular, dan jenaka, Husein mengemas buku ini dengan segar dan mudah dicerna oleh berbagai kelompok anak muda, tanpa kehilangan daya nalar dan kritisnya.</subfield>
  </datafield>
 </record>
</collection>
