02213 2200289 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020001800100082001000118084001800128100001900146245008600165260004700251300002800298650001000326650002100336650002700357700002700384520071600411990002001127990002001147990002001167990002001187500071601207INLIS00000000000349020221207082957 a0010-1122000012ta221207 g 0 ind  a9786230033346 a741.5 aS 741.5 HYE h0 aHyeonjong Park1 aWhy? People - Helen Keller :bTokoh Pengubah Dunia /cDwita Rizky N (alih bahasa) aJakarta :bPT Elex Media Komputindo,c2022 a176 hlm :bill ;c24 cm 4aKomik 4aCerita bergambar 4aKesusastraan Indonesia0 aDuwon Lee (ilustrator) aHelen Keller merupakan sosok yang menjadi bukti bahwa keterbatasan yang dimiliki seseorang tidak dapat menjadi penghalang untuk memperoleh kesuksesan. Meski tidak dapat melihat dan mendengar, yang juga membuatnya tidak dapat berbicara, Helen dapat keluar dari kegelapan setelah hadirnya Anne Sullivan, seorang guru yang dengan setia hingga akhir hayatnya menemani Helen. Dengan dukungan orang-orang tercinta, Helen berhasi menaklukkan ketiga disabilitasnya, bahkan mampu menjadi sosok panutan yang memberikan cahaya bagi banyak orang di seluruh dunia dan menyadarkan mereka akan nilai dari kebahagiaan. “Hal yang lebih tragis dari terlahir buta adalah tidak memiliki visi walau bisa melihat.” -Helen Keller- aS/05156/1/05156 aS/05341/1/05341 aS/05689/1/05689 aS/05690/1/05690 aHelen Keller merupakan sosok yang menjadi bukti bahwa keterbatasan yang dimiliki seseorang tidak dapat menjadi penghalang untuk memperoleh kesuksesan. Meski tidak dapat melihat dan mendengar, yang juga membuatnya tidak dapat berbicara, Helen dapat keluar dari kegelapan setelah hadirnya Anne Sullivan, seorang guru yang dengan setia hingga akhir hayatnya menemani Helen. Dengan dukungan orang-orang tercinta, Helen berhasi menaklukkan ketiga disabilitasnya, bahkan mampu menjadi sosok panutan yang memberikan cahaya bagi banyak orang di seluruh dunia dan menyadarkan mereka akan nilai dari kebahagiaan. “Hal yang lebih tragis dari terlahir buta adalah tidak memiliki visi walau bisa melihat.” -Helen Keller-