02983 2200241 4500001002100000005001500021035002000036245011400056100001600170300002800186700004000214260004500254082001100299084001900310020001800329650002600347650002300373008004100396520113200437990002001569990002001589500113201609INLIS00000000000359120221202104739 a0010-11220001131 aThink Again :bKekuatan mengetahui apa yang tidak diketahui /cAdam Grant; alih bahasa, Annisa Cinantya Putri1 aGrant, Adam a307 hlm :bill ;c23 cm0 aAnnisa Cinantya Putri (alih bahasa) aJakarta :bGramedia Pustaka Utama,c2022 a153.42 aS 153.42 GRA t a9786020664798 4aPikiran dan pemikiran 4aPengetahuan, Teori221202 g 0 ind  aAdam Grant, penulis buku Originals, meneliti seni kritis berpikir ulang: belajar mempertanyakan pendapat Anda dan membuka pikiran orang lain, supaya Anda unggul di tempat kerja dan bijaksana dalam hidup. Kecerdasan biasanya dilihat sebagai kemampuan untuk berpikir dan belajar, tetapi di dunia yang berubah dengan cepat, ada seperangkat keterampilan kognitif lain yang mungkin lebih penting: kemampuan memikirkan kembali dan melupakan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih menyukai kepastian yang nyaman dibanding keraguan yang membuat gelisah. Hasilnya, keyakinan kita jauh lebih rapuh ketimbang tulang. Kecerdasan bukanlah obat, dan bahkan bisa menjadi kutukan: semakin pintar, kita semakin buta akan keterbatasan diri sendiri. Think Again mengungkapkan bahwa kita tidak harus memercayai semua yang kita pikirkan atau menginternalisasi semua yang kita rasakan. Ini adalah undangan untuk melepaskan pandangan yang tidak lagi membantu kita, dan ajakan untuk lebih menghargai fleksibilitas mental ketimbang konsistensi yang bodoh. Jika pengetahuan adalah kekuatan, mengetahui apa yang tidak kita ketahui adalah kebijaksanaan. aS/05293/1/05293 aS/05446/1/05446 aAdam Grant, penulis buku Originals, meneliti seni kritis berpikir ulang: belajar mempertanyakan pendapat Anda dan membuka pikiran orang lain, supaya Anda unggul di tempat kerja dan bijaksana dalam hidup. Kecerdasan biasanya dilihat sebagai kemampuan untuk berpikir dan belajar, tetapi di dunia yang berubah dengan cepat, ada seperangkat keterampilan kognitif lain yang mungkin lebih penting: kemampuan memikirkan kembali dan melupakan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih menyukai kepastian yang nyaman dibanding keraguan yang membuat gelisah. Hasilnya, keyakinan kita jauh lebih rapuh ketimbang tulang. Kecerdasan bukanlah obat, dan bahkan bisa menjadi kutukan: semakin pintar, kita semakin buta akan keterbatasan diri sendiri. Think Again mengungkapkan bahwa kita tidak harus memercayai semua yang kita pikirkan atau menginternalisasi semua yang kita rasakan. Ini adalah undangan untuk melepaskan pandangan yang tidak lagi membantu kita, dan ajakan untuk lebih menghargai fleksibilitas mental ketimbang konsistensi yang bodoh. Jika pengetahuan adalah kekuatan, mengetahui apa yang tidak kita ketahui adalah kebijaksanaan.