03807 2200289 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020001800100082001400118084002200132100001500154245002200169260004600191300002100237650001000258650002700268650002000295650001000315650001400325520155900339990002001898990002001918990002001938500155901958INLIS00000000000398820230321082913 a0010-0323000001ta230321 g f ind  a9786238829675 a899.221 3 aS 899.221 3 LIY t1 aLiye, Tere1 aTanah para bandit aBandung :bPT Sabak Grip Nusantara,c2023 a433 hlm ;c20 cm 4aFiksi 4aKesusastraan Indonesia 4aFiksi Indonesia 4aNovel 4aTere Liye aUsia lima belas tahun, aku menemukan tempat rahasia. Lokasinya berada di tengah hutan lebat, di lereng-lereng terjal Bukit Barisan. Dengan pohon-pohon tinggi. Semak belukar yang susah ditembus. Tumbuhan pakis, lumut, juga belalai rotan. Pertama kali aku menemukannya, kakiku, tanganku, juga bagian tubuh lain tidak terhitung meninggalkan baret dari duri, onak, atau ujung daun yang tajam, pun bisa membuat luka. Aku tidak sengaja menemukannya. Aku sedang sedih, jadi aku pergi dari rumah panggung milik Abu Syik-kakekku. Mungkin sama seperti anak perempuan lainnya, setelah dimarahi oleh orang tua, menangis, kabur dari rumah. Tapi di tengah hutan lebat begini, kemana aku harus 'kabur'? Talang, atau perkampungan tempat aku tinggal berada di lembah yang dikelilingi hutan lebat. Tidak ada mall, tempat wisata, atau tempat nongkrong di sini. Satu-satunya tempat pelarianku adalah hutan itu. Maka aku berjalan tidak tahu arah masuk ke dalamnya. Berjam jam. Di sini, para penjahat dibesarkan sejak buaian. Dilatih lewat kebohongan. Dididik dengan kemunafikan. Diajarkan melalui ketidakpedulian. Di sini, semua bisa diatur sepanjang ada uangnya. Yang bodoh bisa menjadi pintar seketika. Yang tidak layak bisa segera memenuhi syarat. Yang bersalah bisa jadi benar. Yang bengkok bisa diluruskan. Tidak suka lurus? Mari dibengkokkan lagi. Di sini, di Tanah Para Bandit, tidak ada lagi beda antara penjahat bejat dengan tuan nyonya terhormat. Mencuri, merampok hak orang lain, lumrah saja. Ayo, jangan terlalu serius, Kawan. Kita berpesta malam ini. aS/06020/1/06020 aS/06018/1/06018 aS/06019/1/06019 aUsia lima belas tahun, aku menemukan tempat rahasia. Lokasinya berada di tengah hutan lebat, di lereng-lereng terjal Bukit Barisan. Dengan pohon-pohon tinggi. Semak belukar yang susah ditembus. Tumbuhan pakis, lumut, juga belalai rotan. Pertama kali aku menemukannya, kakiku, tanganku, juga bagian tubuh lain tidak terhitung meninggalkan baret dari duri, onak, atau ujung daun yang tajam, pun bisa membuat luka. Aku tidak sengaja menemukannya. Aku sedang sedih, jadi aku pergi dari rumah panggung milik Abu Syik-kakekku. Mungkin sama seperti anak perempuan lainnya, setelah dimarahi oleh orang tua, menangis, kabur dari rumah. Tapi di tengah hutan lebat begini, kemana aku harus 'kabur'? Talang, atau perkampungan tempat aku tinggal berada di lembah yang dikelilingi hutan lebat. Tidak ada mall, tempat wisata, atau tempat nongkrong di sini. Satu-satunya tempat pelarianku adalah hutan itu. Maka aku berjalan tidak tahu arah masuk ke dalamnya. Berjam jam. Di sini, para penjahat dibesarkan sejak buaian. Dilatih lewat kebohongan. Dididik dengan kemunafikan. Diajarkan melalui ketidakpedulian. Di sini, semua bisa diatur sepanjang ada uangnya. Yang bodoh bisa menjadi pintar seketika. Yang tidak layak bisa segera memenuhi syarat. Yang bersalah bisa jadi benar. Yang bengkok bisa diluruskan. Tidak suka lurus? Mari dibengkokkan lagi. Di sini, di Tanah Para Bandit, tidak ada lagi beda antara penjahat bejat dengan tuan nyonya terhormat. Mencuri, merampok hak orang lain, lumrah saja. Ayo, jangan terlalu serius, Kawan. Kita berpesta malam ini.