03053 2200241 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020001800100082001000118084001900128100002800147245010400175250001100279260004200290300003300332650001600365520119500381990002001576990002001596500119501616INLIS00000000000610320250830102046 a0010-0825000171ta250830 g 0 ind  a9786232423534 a297.5 aS 297.5 ALH t1 aAl Hadar, Husein Ja'Far1 aTuhan Ada di Hatimu :bTak di Ka'bah, di Vatikan, atau di Tembok Ratapan /cHusein Ja'far Al- Hadar acet. 6 aJakarta Selatan :bNoura Books,c2025 a235 hlm :bill; tab ;c21 cm 4aAgama Islam aDi masa kini kata hijrah seakan menjadi hal yang ‘latah’ dalam kehidupan sehari-hari. Akhir-akhir ini kita dapati hijrah menjadi sesuatu yang sangat populer di masyarakat Muslim Indonesia. Namun kadang hijrah yang dimaksud dan dijalankan oleh sebagian orang hanya bersifat hukum saja, hanya meliputi aspek-aspek ritual saja. Misalnya, mereka melakukan hijrah dari sebelumnya tidak berkerudung menjadi berkerudung, dari yang tak rajin shalat menjadi rajin shalat. Dalam Islam, hijrah itu doktrin yang sangat penting dan maknanya begitu luas dan mendalam. Mencakup seluruh aspek kehidupan kita. Minimal ada empat aspek yang harus dilakukan oleh umat Islam berkomitmen untuk hijrah. Pertama aspek spiritual atau sufistik-tasawuf, kedua aspek kultural, ketiga aspek filosofis, dan keempat aspek sosial. Rumi berkata, “Dulu aku mencari Tuhan di masjid namun tidak kutemukan Tuhan di sana. Aku beralih ke gereja, aku juga tidak menemukan Tuhan di sana. Aku beralih dari tempat ibadah yang satu ke tempat ibadah yang lain namun aku tidak menemukan Tuhan di sana. Justru aku menemukan Tuhanku ketika aku menengok ke dalam diriku sendiri, ketika merenungkan tentang samudera diri ini.” aS/09998/1/09998 aS/10114/1/10114 aDi masa kini kata hijrah seakan menjadi hal yang ‘latah’ dalam kehidupan sehari-hari. Akhir-akhir ini kita dapati hijrah menjadi sesuatu yang sangat populer di masyarakat Muslim Indonesia. Namun kadang hijrah yang dimaksud dan dijalankan oleh sebagian orang hanya bersifat hukum saja, hanya meliputi aspek-aspek ritual saja. Misalnya, mereka melakukan hijrah dari sebelumnya tidak berkerudung menjadi berkerudung, dari yang tak rajin shalat menjadi rajin shalat. Dalam Islam, hijrah itu doktrin yang sangat penting dan maknanya begitu luas dan mendalam. Mencakup seluruh aspek kehidupan kita. Minimal ada empat aspek yang harus dilakukan oleh umat Islam berkomitmen untuk hijrah. Pertama aspek spiritual atau sufistik-tasawuf, kedua aspek kultural, ketiga aspek filosofis, dan keempat aspek sosial. Rumi berkata, “Dulu aku mencari Tuhan di masjid namun tidak kutemukan Tuhan di sana. Aku beralih ke gereja, aku juga tidak menemukan Tuhan di sana. Aku beralih dari tempat ibadah yang satu ke tempat ibadah yang lain namun aku tidak menemukan Tuhan di sana. Justru aku menemukan Tuhanku ketika aku menengok ke dalam diriku sendiri, ketika merenungkan tentang samudera diri ini.”