02703 2200229 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020001800100082001200118084002000130100002000150245004800170250001100218260004700229300003400276650001300310520106500323990002001388500106501408INLIS00000000000636320251007112521 a0010-1025000024ta251007 g 0 ind  a9786020484822 a297.261 aS 297.261 ANS s1 aAnshor, Syaiful1 aSahabat Ajak Aku Ke Surga /cSyaiful Anshor acet. 1 aJakarta :bPT Elex Media Komputindo,c2018 avii+196 hlm :bill ;c20,5 cm 4aMotivasi aKita punya banyak sahabat. Entah berapa jumlahnya, tapi, dari sekian banyak jumlah sahabat itu, coba sesekali bertanya pada diri sendiri, “Siapakah di antara mereka yang selama ini bisa mengajak kita ke surga?” Jangan-jangan kebanyakan dari mereka selama ini bukan mengajak kita ke surga, tapi justru ke neraka. Masalahnya, mencari sahabat yang dapat mengajak kita ke surga tidak mudah. Setidaknya, sebagai gambaran, dia harus seperti sahabat Muhajirin dan Anshar. Persahabatan dua kaum mulia ini diikat oleh keimanan yang kuat, buncahan cinta kepada orang lain yang melebihi kepada diri sendiri, menjadikan Allah sebagai tujuan, dan Rasulullah sebagai teladan. Sungguh bahagia punya sahabat seperti ini. Mereka tidak saja memperlakukan kita seperti saudara, tapi juga mengajak kita bersama meniti jalan ke surga. Hidup yang sulit jadi terasa mudah, beban berat jadi ringan, dan kesedihan jadi bahagia. Sebab, dia akan bertutur lembut, “Sahabat, aku mencintaimu karena-Nya. Sejak ini pula lukamu lukaku, bahagiamu bahagiaku, masalahmu masalahku.” aS/10685/1/10685 aKita punya banyak sahabat. Entah berapa jumlahnya, tapi, dari sekian banyak jumlah sahabat itu, coba sesekali bertanya pada diri sendiri, “Siapakah di antara mereka yang selama ini bisa mengajak kita ke surga?” Jangan-jangan kebanyakan dari mereka selama ini bukan mengajak kita ke surga, tapi justru ke neraka. Masalahnya, mencari sahabat yang dapat mengajak kita ke surga tidak mudah. Setidaknya, sebagai gambaran, dia harus seperti sahabat Muhajirin dan Anshar. Persahabatan dua kaum mulia ini diikat oleh keimanan yang kuat, buncahan cinta kepada orang lain yang melebihi kepada diri sendiri, menjadikan Allah sebagai tujuan, dan Rasulullah sebagai teladan. Sungguh bahagia punya sahabat seperti ini. Mereka tidak saja memperlakukan kita seperti saudara, tapi juga mengajak kita bersama meniti jalan ke surga. Hidup yang sulit jadi terasa mudah, beban berat jadi ringan, dan kesedihan jadi bahagia. Sebab, dia akan bertutur lembut, “Sahabat, aku mencintaimu karena-Nya. Sejak ini pula lukamu lukaku, bahagiamu bahagiaku, masalahmu masalahku.”