02091 2200217 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020002200100082001400122084002200136100002600158245012100184250001100305260004700316300003900363650002200402520142900424990002001853INLIS00000000000687320260909094732 a0010-0926000021ta260909 g 0 ind  a978-623-00-7095-2 a306.874 2 aS 306.874 2 WIB t1 aWibowo, Angung Setiyo1 aTanpa Ayah, Tanpa Arah :bMenemukan Kembali Peran Ayah yang Hilang dalam Pola Pengasuhan Anak /cAgung Setiyo Wibowo aCet. 2 aJakarta :bPT Elex Media Komputindo,c2026 axii + 280 hlm :bill; tab ;c21 cm 4aFamily Psychology a"Aku merasa fatherless karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang ayah. Memang, ia mencukupi semua kebutuhan lahir, tetapi tidak untuk kebutuhan batin. Ia ada, tapi seperti tiada…. " Dunia sedang mengalami pandemi global tanpa ayah. Anak-anak yang kesepian, kehilangan arah, dan rentan terhadap masalah kesehatan mental ditengarai menjadi pemicu epidemi kesehatan masyarakat abad ke-21. Di sisi lain, fenomena generasi yang kesepian, mencari pelarian, dan terjerat kecanduan sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Menyadari kondisi “darurat” ini, Tanpa Ayah, Tanpa Arah hadir untuk membedah fenomena, yang perlahan tetapi pasti, telah menggerus generasi kita—anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah sejati. Buku ini tidak hanya membuka mata terhadap luka tanpa ayah, tetapi juga memandu setiap ayah untuk kembali menjemput takdirnya: menjadi kompas, pelindung, dan sumber kekuatan bagi anak-anak mereka. Ayah bukan “hanya” pencari nafkah. Ayah adalah pemberi arah dalam perjalanan keluarga. Ini bukan sekadar ajakan untuk merenungkan, melainkan undangan bagi setiap ayah: hadir utuh—dengan hati, waktu, dan jiwa. Sebab, di balik mata kecil yang mencari, ada harapan besar yang berbisik, "Ayah, tunjukkan aku jalan." Tanpa Ayah, Tanpa Arah adalah panggilan untuk bangkit, untuk menambal luka generasi yang kesepian, dan untuk mewariskan bukan hanya nama, melainkan juga nilai dan cinta sejati. aS/11551/1/11551