Cite This        Tampung        Export Record
Judul Tanah para bandit
Pengarang Liye, Tere
Penerbitan Bandung : PT Sabak Grip Nusantara, 2023
Deskripsi Fisik 433 hlm ;20 cm
ISBN 9786238829675
Subjek Fiksi
Kesusastraan Indonesia
Fiksi Indonesia
Novel
Tere Liye
Abstrak Usia lima belas tahun, aku menemukan tempat rahasia. Lokasinya berada di tengah hutan lebat, di lereng-lereng terjal Bukit Barisan. Dengan pohon-pohon tinggi. Semak belukar yang susah ditembus. Tumbuhan pakis, lumut, juga belalai rotan. Pertama kali aku menemukannya, kakiku, tanganku, juga bagian tubuh lain tidak terhitung meninggalkan baret dari duri, onak, atau ujung daun yang tajam, pun bisa membuat luka. Aku tidak sengaja menemukannya. Aku sedang sedih, jadi aku pergi dari rumah panggung milik Abu Syik-kakekku. Mungkin sama seperti anak perempuan lainnya, setelah dimarahi oleh orang tua, menangis, kabur dari rumah. Tapi di tengah hutan lebat begini, kemana aku harus 'kabur'? Talang, atau perkampungan tempat aku tinggal berada di lembah yang dikelilingi hutan lebat. Tidak ada mall, tempat wisata, atau tempat nongkrong di sini. Satu-satunya tempat pelarianku adalah hutan itu. Maka aku berjalan tidak tahu arah masuk ke dalamnya. Berjam jam. Di sini, para penjahat dibesarkan sejak buaian. Dilatih lewat kebohongan. Dididik dengan kemunafikan. Diajarkan melalui ketidakpedulian. Di sini, semua bisa diatur sepanjang ada uangnya. Yang bodoh bisa menjadi pintar seketika. Yang tidak layak bisa segera memenuhi syarat. Yang bersalah bisa jadi benar. Yang bengkok bisa diluruskan. Tidak suka lurus? Mari dibengkokkan lagi. Di sini, di Tanah Para Bandit, tidak ada lagi beda antara penjahat bejat dengan tuan nyonya terhormat. Mencuri, merampok hak orang lain, lumrah saja. Ayo, jangan terlalu serius, Kawan. Kita berpesta malam ini.
Catatan Usia lima belas tahun, aku menemukan tempat rahasia. Lokasinya berada di tengah hutan lebat, di lereng-lereng terjal Bukit Barisan. Dengan pohon-pohon tinggi. Semak belukar yang susah ditembus. Tumbuhan pakis, lumut, juga belalai rotan. Pertama kali aku menemukannya, kakiku, tanganku, juga bagian tubuh lain tidak terhitung meninggalkan baret dari duri, onak, atau ujung daun yang tajam, pun bisa membuat luka. Aku tidak sengaja menemukannya. Aku sedang sedih, jadi aku pergi dari rumah panggung milik Abu Syik-kakekku. Mungkin sama seperti anak perempuan lainnya, setelah dimarahi oleh orang tua, menangis, kabur dari rumah. Tapi di tengah hutan lebat begini, kemana aku harus 'kabur'? Talang, atau perkampungan tempat aku tinggal berada di lembah yang dikelilingi hutan lebat. Tidak ada mall, tempat wisata, atau tempat nongkrong di sini. Satu-satunya tempat pelarianku adalah hutan itu. Maka aku berjalan tidak tahu arah masuk ke dalamnya. Berjam jam. Di sini, para penjahat dibesarkan sejak buaian. Dilatih lewat kebohongan. Dididik dengan kemunafikan. Diajarkan melalui ketidakpedulian. Di sini, semua bisa diatur sepanjang ada uangnya. Yang bodoh bisa menjadi pintar seketika. Yang tidak layak bisa segera memenuhi syarat. Yang bersalah bisa jadi benar. Yang bengkok bisa diluruskan. Tidak suka lurus? Mari dibengkokkan lagi. Di sini, di Tanah Para Bandit, tidak ada lagi beda antara penjahat bejat dengan tuan nyonya terhormat. Mencuri, merampok hak orang lain, lumrah saja. Ayo, jangan terlalu serius, Kawan. Kita berpesta malam ini.
Bahasa Indonesia
Bentuk Karya Novel
Target Pembaca Umum

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
S/06018/1/06018 S 899.221 3 LIY t Dapat dipinjam Thursina IIBS Kampus 2 - IRC Tersedia
S/06019/1/06019 S 899.221 3 LIY t Dapat dipinjam Thursina IIBS Kampus 1 - IRC Tersedia
S/06020/1/06020 S 899.221 3 LIY t Dapat dipinjam Thursina IIBS Kampus 1 - IRC Tersedia
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000003988
005 20230321082913
007 ta
008 230321################g##########f#ind##
020 # # $a 9786238829675
035 # # $a 0010-0323000001
082 # # $a 899.221 3
084 # # $a S 899.221 3 LIY t
100 1 # $a Liye, Tere
245 1 # $a Tanah para bandit
260 # # $a Bandung :$b PT Sabak Grip Nusantara,$c 2023
300 # # $a 433 hlm ; $c 20 cm
500 # # $a Usia lima belas tahun, aku menemukan tempat rahasia. Lokasinya berada di tengah hutan lebat, di lereng-lereng terjal Bukit Barisan. Dengan pohon-pohon tinggi. Semak belukar yang susah ditembus. Tumbuhan pakis, lumut, juga belalai rotan. Pertama kali aku menemukannya, kakiku, tanganku, juga bagian tubuh lain tidak terhitung meninggalkan baret dari duri, onak, atau ujung daun yang tajam, pun bisa membuat luka. Aku tidak sengaja menemukannya. Aku sedang sedih, jadi aku pergi dari rumah panggung milik Abu Syik-kakekku. Mungkin sama seperti anak perempuan lainnya, setelah dimarahi oleh orang tua, menangis, kabur dari rumah. Tapi di tengah hutan lebat begini, kemana aku harus 'kabur'? Talang, atau perkampungan tempat aku tinggal berada di lembah yang dikelilingi hutan lebat. Tidak ada mall, tempat wisata, atau tempat nongkrong di sini. Satu-satunya tempat pelarianku adalah hutan itu. Maka aku berjalan tidak tahu arah masuk ke dalamnya. Berjam jam. Di sini, para penjahat dibesarkan sejak buaian. Dilatih lewat kebohongan. Dididik dengan kemunafikan. Diajarkan melalui ketidakpedulian. Di sini, semua bisa diatur sepanjang ada uangnya. Yang bodoh bisa menjadi pintar seketika. Yang tidak layak bisa segera memenuhi syarat. Yang bersalah bisa jadi benar. Yang bengkok bisa diluruskan. Tidak suka lurus? Mari dibengkokkan lagi. Di sini, di Tanah Para Bandit, tidak ada lagi beda antara penjahat bejat dengan tuan nyonya terhormat. Mencuri, merampok hak orang lain, lumrah saja. Ayo, jangan terlalu serius, Kawan. Kita berpesta malam ini.
520 # # $a Usia lima belas tahun, aku menemukan tempat rahasia. Lokasinya berada di tengah hutan lebat, di lereng-lereng terjal Bukit Barisan. Dengan pohon-pohon tinggi. Semak belukar yang susah ditembus. Tumbuhan pakis, lumut, juga belalai rotan. Pertama kali aku menemukannya, kakiku, tanganku, juga bagian tubuh lain tidak terhitung meninggalkan baret dari duri, onak, atau ujung daun yang tajam, pun bisa membuat luka. Aku tidak sengaja menemukannya. Aku sedang sedih, jadi aku pergi dari rumah panggung milik Abu Syik-kakekku. Mungkin sama seperti anak perempuan lainnya, setelah dimarahi oleh orang tua, menangis, kabur dari rumah. Tapi di tengah hutan lebat begini, kemana aku harus 'kabur'? Talang, atau perkampungan tempat aku tinggal berada di lembah yang dikelilingi hutan lebat. Tidak ada mall, tempat wisata, atau tempat nongkrong di sini. Satu-satunya tempat pelarianku adalah hutan itu. Maka aku berjalan tidak tahu arah masuk ke dalamnya. Berjam jam. Di sini, para penjahat dibesarkan sejak buaian. Dilatih lewat kebohongan. Dididik dengan kemunafikan. Diajarkan melalui ketidakpedulian. Di sini, semua bisa diatur sepanjang ada uangnya. Yang bodoh bisa menjadi pintar seketika. Yang tidak layak bisa segera memenuhi syarat. Yang bersalah bisa jadi benar. Yang bengkok bisa diluruskan. Tidak suka lurus? Mari dibengkokkan lagi. Di sini, di Tanah Para Bandit, tidak ada lagi beda antara penjahat bejat dengan tuan nyonya terhormat. Mencuri, merampok hak orang lain, lumrah saja. Ayo, jangan terlalu serius, Kawan. Kita berpesta malam ini.
650 # 4 $a Fiksi
650 # 4 $a Fiksi Indonesia
650 # 4 $a Kesusastraan Indonesia
650 # 4 $a Novel
650 # 4 $a Tere Liye
990 # # $a S/06018/1/06018
990 # # $a S/06019/1/06019
990 # # $a S/06020/1/06020
Content Unduh katalog